Keindahan Tercipta Dari Perjuangan

Darul Istiqamah

Darul Istiqamah

Darul Istiqamah. Saya pernah menuliskan Artikel tentang kampung itu. Kampung Istiqamah adalah Kampungku (Darul Istiqamah is My Hometown). Dan Alhamdulillah beberapa minggu yang lalu saya diberikan kesempatan untuk mudik lebaran ke Darul Istiqamah. Tepatnya pada lebaran Idul Fitri 1431 H. Saya menginjakkan kaki untuk keempat kalinya dalam empat tahun saya dalam perantauan (yang katanya untuk menuntut ilmu) sekitar 21 Ramdhan. Lumayan banyak terjadi perubahan yang terlihat secara fisik(Lingkungan dan Infrastruktur). Ada yang berubah positif tapi tak kurang juga perubahan negatif. Mungkin demikianlah yang namanya perjuangan.

Langkah kaki pertama Roda ban pertama memasuki kampung itu setelah setahun tidak pulang, saya langsung mendapatkan feelnya. Dan feel ini memang tak jarang ditemui di Maros, jalanan rusak. Jangankan jalan(bisa dibilang lokal) dikampung itu, jalan kolektor aja banyak yang rusak bahkan jalan Arteri (Trans Sulawesi) pun ada yang rusak atau mungkin sementara diperbaiki. Jadi perubahan negatif ini bukan suatu masalah yang serius buat Darul Istiqamah untuk saat ini. Tetapi suatu saat nanti butuh perhatian serius untuk itu. Karena itu pun mempengaruhi kenyamanan orang lain yang bekunjung ke kampung itu.

Tetapi, perubahan negatif(atau mungkin kekecewaan) itu terobati ketika saya manyaksikan banyaknya papan(semcam pamflet) yang berisi kalimat-kalimat positif tentang kebersihan, semangat, keislaman dll di pinggiran jalan. Ditambah lagi rindangnya pohon nangka ditepi jalan masuk itu. Walaupun kondisi fisik jalannya kurang bagus tetap setidaknya suasananya mendukung pejalan kaki dan Full of Wise, Watawaasau bil haq, watawaahau bish shabr”

Setelah beberapa saat melangkah(sebenarnya naik mobil sih J ), akhirnya saya sampau juga di rumahku, rumah yang penuh dengan berjuta kenangan dan lain-lain, hehhehe… Tetapi ada sesuatu yang membuatku terbelalak sebelum masuk ke rumah. Kebun(atau bisa juga dibilang hutan) di depan rumahku yang dulunya sudah dibabat nyaris habis oleh warga kampung itu kini mulai menjelma kembali ke wujud aslinya. Padahal pembabatan yang dilakukan waktu itu tidak mudah dan membutuhkan kerja keras dan perjuangan yang luar biasa(mudah-mudahan orang yg terlibat ikhlas melakukannya, aaamiyn,,, hmmm… waktu itu sya ikut tdk ya, hehhehe…).

Menurut informasi yang saya ketahui, pembabatan itu dilakukan sehubungan adanya rencana untuk membangun beberapa gedung di area itu, kayaknya sih gedung perguruan tinggi. FYI, kampung itu sudah memiliki sekolah dari RA hingga MA (TK hingga SMA) sehingga membutuhkan Perguruan Tinggi untuk melengkapi koleksi sekolahnya J. Tetapi entah kenapa gedung yang diharapkan itu belum juga berdiri tegak didepan rumahku. Padahal kLo dah jadi kan bisa jadi peluang bisnis buat saya disitu, hhehehe… Salah satu warga(kakekku) yang saya tanya tentang hal itu menjawab kLo katanya dana sumbangan untuk pembangunan gedung itu belum cair. Setelah saya beratanya lebih Lanjut kenapa hal itu terjadi, beliau juga kurang tau (mungkin transparansi ke warganya kurang atau memang narasumbernya yg tdk gaul alias kurang informasi).

Kecewa, mungkin itu kata yang mewakili perasaanku saat itu. Nassami. Sehingga kekecewaanku itu pun memaksaku untuk mencari tau lebih jauh lagi kenapa Dananya belum cair-cair sampai sekarang. Cek per cek, usut per usut sama dengan satu, akhirnya saya dapat informasi terbaru (lupa dari mana, mudah2an tidak hoax) kLo dananya itu dialihkan ke tempat lain karena kampung itu, Darul Istiqamah, balum mampu untuk meyakinkan investor(lebih tepatnya orang yang mau nyumbang) kLo kampung itu betul-betul siap untuk menerima gedung perguruan tinggi itu. Nah, ini yang saya belum tau kenapa belum siap menerima gedung itu. Mungkin karena gedungnya terlalu berat jadi tidak ada yang bisa menerima langsung. Hahhahaha…

Yah, mau gimana lagi nasi telah menjadi bubur. Tinggal ditambahin sdkit bumbu dan sayur-sayuran supaya bisa menjadi bubur manado. Tetapi koko yang ahli belum ada. Jadi, untuk saat ini buburnya dibiarin aja mudah-mudahan tidak basi, hehhehe… maksudnya tanah yang dah kembali menjadi kebun itu dibiarin sampe tiba waktunya orang yang ahli (sayakah orangnya??? H2C) datang untuk menyulapnya menjadi perguruan tinggi atau yang lainnya sesuai dengan harapan. Aaaamiyn…

Bersambung…

——————————————–

Setelah dibaca ulang ternyata banyak kata ataupun kalimat yang kurang pas. Ada juga yang agak kurang nyambung dari satu kalimat ke kalimat lainnya. Masih harus banyak belajar lagi…

Comments on: "Vacation to Darul Istiqamah" (7)

  1. Amran rosady'' said:

    hanya satu kalimat”ku terharu dn bahagia”megigat masa2 d rumahku istiqomqh gali parit buat jaln menuju jln syuhada”emang saat itu aku baru duduk d tsanawiyah””

  2. Duniaku Farmasiku said:

    Itu gedung yg dekat hum sakitkah?
    ededeeeeeeed… z ingat itu waktu malam2 di suruh angkat tanah sebagai timbunan.. ckckc ternyata lum jadi2.. seingatku itu dah 10 thn yg lalu..

    • bukan yang itu tpi yg dikebun depan rumahku,,,
      kebun yg berbatasan Istiqamah 1, Istiqamah 2 sama Istiqamah 3.
      kLi dari informasi yg sya dengar bgitu dan gedungnya ga jadi dibangun…

  3. Bagus mi itu kak… Bahasanya santai dan jelas (bagi orang yg berlogat sama)…hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: